Kata Islam merupakan kata benda (masdar) dari kata kerja aslama [fi’il madhi/waktu lampau] dan yaslimu [fi’il mudhari’]. Kata Islam berarti tunduk, patuh, pasrah, berserah diri, damai, dan selamat. Semua makhluk yang ada di bumi berislam [berserah diri, patuh, dan tunduk] kepada Allah Swt. Mereka semua bersujud, tunduk, dan patuh kepada hukum-hukum-Nya. Seorang muslim yang taat akan terima dan ikhlas atas aturan yang telah ditetapkan oleh Alllah Swt. Ini merupakan konsep dari keberserahan diri yang ada pada pengertian Islam itu. Penolakan pada satu saja aturan satu saja aturan Allah Swt. Menunjukkan sikap ketidakberserahan secara menyeluruh. Dan penolakan atas hukum Allah Swt. Berarti mengingkari-Nnya.

 Secara terminologis, Islam adalah agama yang di turunkan oleh Allah Swt. Kepada Rasulullah SAW. Melalui perantaraan malaikat Jibril untuk di sampaikan kepada manusia sebagai bimbingan, petunjuk, dan pedoman hidup demi keselamatan dunia akhirat. Karena Islam adalah sebagai petunjuk dan pedoman hidup untuk keselamatan dunia akhirat dan ketenangan lahir bathin, maka kedudukan Islam seumpama kendaraan Raksasa yang mengangkut milyaran manusia dengan perlengkapannya yang kompleks serta Ulama dan Khalilfah sebagai Pilot dan teknisinya.

 Para Orientalis barat generasi awal mempunyai cara pandang yang salah tentang agama Islam. Mereka memandang Islam sebagai ciptaan atau hasil pemikiran Nabi Muhammad Saw. Mereka menyebut Islam Sebagai Muhammadanisme [Paham Muhammad]. Padahal dalam posisi ini Nabi Muhammad Saw. Adalah pembawa pesan peringatan dan petunjuk dari Allah Swt. Islam bukan hasil pemikiran dan bukan paham ciptaan Nabi Muhammad Saw. Begitu juga Islam bukan paham ke-Araban atau Arabisme. Karena Islam bukan milik pribadi dan bukan milik segolongan orang, tapi milik umat manusia yang mau beriman dan mengakui eksistensi Allah Swt.

 Islam bukan produk akal manusia. Islam bukan kebudayaan. Islam bukan isme. Maka tidak tepat jika ada yang mengatakan Islam sebagai isme-isme. Karena kedudukan Islam bukanlah hasil dari ide dan buatan manusia. Sementara isme-isme yang ada di dunia saat ini, merupakan produk kebudayaan manusia. Kalau Islam di katakan sebagai isme, maka secara tidak langsung mengatakan islam itu setara dengan isme-isme hasil pikiran manusia

 Karena jika dilihat dari perspektif historis, isme ini merupakan kata yang di pakai untuk melengkapi ide atau gagasan hasil buah pikiran manusiasehingga gagasan itu kemudian di anggap sebagai isme yang di ajarkan pada manusia. Karena sufiks isme selalu identik dan lebih melekat dengan buah pikiran barat, seperti Nasional-isme, Kapital-isme, Liberal-isme, Sosial-isme , sekular-isme, femin-isme,  egalitarian-isme, dll. Isme-isme ini tidak ada satupun yang bersumber dari Islam, maka wajar bila kemudian isme-isme ini bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

 Islam sebagai agama [wahyu] sangat tidak layak jika diberi sufiks isme karena Islam bukan manifestasi diri pikiran manusia. Maka dengan tidak memberikan sufiks isme pada kata Islam merupakan upaya untuk menjaga keluhuran, ketinggian kedudukan, dan kemurnian ajaran yang berasal dari Allah Swt. Dan agar tidak terkesan setara dengan Ideologi hasil buah pikiran manusia.