DIGITALISASI KEBUDAYAAN, GIMANA SIH DAMPAKNYA BAGI INDONESIA?

Kita semua yang hidup di dunia ini tentu menempati suatu daerah di muka bumi. Setiap daerah sudah pasti memiliki kondisi lingkungan yang berbeda satu sama lain. Ini membuat masyarakat yang menempati daerah itu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan daerah lainnya. Aktivitas sehari-hari yang mereka lakukan pun memiliki ciri khas jika dibandingkan dengan daerah yang lain. Mulai dari busana sehari-hari, makanan pokok, infrastruktur bangunan masyarakat dan aktivitas maupun kebiasaan yang dilakukan memiliki ciri khas atau maknanya masing-masing. Itu bisa disebut sebagai budaya.

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. Kebudayaan merupakan hasil interaksi antara manusia dengan manusia dan antara manusia dengan alam. Jadi, kebudayaan itu adalah hasil karya manusia yang merupakan perbaduan antara akal dan perasaan. Negara Indonesia merupakan negara yang cukup luas, negara kepulauan yang tentunya sudah pasti memiliki kebudayaan yang banyak banget. Saking banyaknya pulau di Indonesia, jumlahnya mencapai belasan ribu, kira-kira berapa ya jumlahnya? Berdasarkan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), pada tahun 2017, secara resmi Indonesia mengklaim 2.590 pulau bernama ke Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), sehingga pulau bernama di Indonesia bertambah menjadi 16.056 pulau. Wow banyak banget!. Lalu, berapa sih jumlahnya suku bangsa Indonesia? Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa, lebih tepatnya terdapat 1.340 suku bangsa di Tanah Air menurut sensus BPS tahun 2010. Suku Jawa adalah kelompok terbesar di Indonesia dengan jumlah yang mencapai 41% dari total populasi. Sedangkan di Kalimantan dan Papua memiliki populasi kecil yang hanya beranggotakan ratusan orang. Pembagian kelompok suku di Indonesia tidak mutlak dan tidak jelas, hal ini akibat dari perpindahan penduduk, pencampuran budaya, dan saling mempengaruhi atau bisa disebut akulturasi.

Pada bulan Maret 2020 virus Corona mulai memasuki Indonesia. Meskipun ini virus tapi karena satu makhluk yang ukurannya sangat kecil ini membuat satu negara Indonesia menjadi kacau dalam hamper berbagai bidang. Banyak tempat kerja yang mau tidak mau harus menutup tempat usahanya. Penerbangan pesawat ditutup. Orang-orang yang keluar berpergian dibatasi jumlahnya. Ini memaksa setiap negara harus mengubah pola kehidupan masyarakatnya tak terkecuali negara Indonesia. Bisa dibilang ini adalah awal dari era disrupsi, yaitu adanya suatu system baru yang menggantikan system lama karena suatu kebutuhan yang mendesak. Ini menyebabkan segala aktivitas kehidupan, segala kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah harus secara digital. Ini bisa disebut digitalisasi. Ini tentu mempengaruhi kebudayaan di Indonesia. Era dimana informasi dapat berkembang ini memiliki pengaruh yang positif dan juga memiliki pengaruh yang negatif bagi eksistensi kebudayaan yang ada di Indonesia.

Adapun dampak negatif dari digitalisasi kebudayaan yaitu lunturnya budaya asli daerah, mudah masuknya budaya luar yang membawa pengaruh buruk bagi bangsa Indonesia. Akibat semakin mudahnya seseorang mempelajari atau mengenal sesuatu ini membuat masyarakat menjadi mulai mengabaikan budaya daerahnya sendiri dan lebih tertarik untuk mengenali budaya luar. Contohnya muda-mudi yang suka kebudayaan korea atau K-pop, suka jejepangan atau wibu, suka kehidupan liberal ala barat atau westernisasi, dan masih banyak lagi. Sebenarnya setiap budaya itu tidak mesti identik dengan sesuatu yang buruk, karena setiap budaya itu tentu memiliki hal yang positif. Namun sungguh disayangkan, kebanyakan pelajar justru lebih menyerap yang negatifnya. Ini dapat menghilangkan jati diri bangsa, merusak aqidah akhlaqnya. Kalau dampak positif dari digitalisasi ini tentu mempermudah mempelajari berbagai hal. Pelajar dapat mensosialisasikan atau mengenalkan budayanya sendiri kepada khalayak melalui media sosial sehingga budayanya menjadi lebih dikenal. Pelajar juga dapat mempelajari berbagai macam ciri khas kebudayaan yang ada di dunia secara gampang. Cukup dengan modal klik smartphone bisa mengetahui banyak hal secara langsung.

Digitalisasi ini juga membuat pelajar memiliki new habits yaitu seperti budaya mager (malas gerak), rebahan, tidak bisa lepas dari gadget dan lain-lain. Selain itu, maraknya berita hoax juga sering terjadi. Ini sesuatu yang sangat bahaya apalagi pelajar Indonesia kebanyakan memiliki literasi yang lemah, sehingga membuat banyak pelajar gampang terpengaruhi oleh suatu isu yang masih belum jelas validitasnya, dan ini sangat merugikan bagi bangsa Indonesia di masa mendatang. Jika pelajarnya kurang beretika maka nasib bangsa ke depan akan buruk pula.

Oleh karena itu, penting banget bagi PII serta para organisasi maupun aktivis lainnya untuk lebih sadar, inisiatif dan kreatif dalam melakukan aksi, menghadirkan solusi untuk mengatasi problematika digitalisasi kebudayaan ini. Karena ini dampaknya bagi masa depan bangsa Indonesia.