Merosotnya pelajar pada masa daring
Pandemi Covid-19 ini sudah hampir berjalan selama setahun lebih, terhitung sejak awal Maret 2020. Sampai akhirnya Juli 2021 menjadi bulan paling mengerikan. Berbagai media menggembor-gemborkan kabar tak sedap. Covid-19 melonjak. Tentunya semboyan #dirumahsaja, kembali digalakkan.
Termasuk sektor pendidikan. Berbagai ulasan pro-kontra mewarnai dunia pendidikan.
Mereka yang protes sebab UKT dan SPP sekolah terus meningkat. Mereka yang berontak sebab ditagih uang fasilitas sekolah/ kampus padahal tidak menggunakan. Bahkan melihat pun tidak pernah.
Adapun yang menjadi sorotan adalah kualitas pelajar dalam belajar cenderung menurun.
ciri penurunan kualitas pelajar.
1. Melenyapkan Buku dalam Proses Belajar terlalu fokus dengan yang instant langsung lihat google
2. Terlalu Banyak Protes dalam Proses
3. Rasa egoisme yang tinggi dalam tugas bersama
4. Kurang memanfaatkan waktu dengan baik
Hal tersebut terjadi sejak diadakan belajar dirumah saja, proses belajar dilakukan via online. Tak sedikit guru yang tidak mengetahui kondisi siswanya karena belum bisa terpantau maksimal apa yang dilakukan siswanya
Bisa jadi mereka justru berleha-leha. Sedangkan gurunya terus menjelaskan. Bisa jadi malah pelajar menaruh gadget atau laptonya. Lalu dia tinggal tidur selama pembelajaran berlangsung.
Kasus inilah yang menjadi penguat argumen bahwa memang benar adanya. Kualitas pelajar saat pandemi cenderung menurun, seperti ciri-ciri yang telah disebutkan.
Dengan adanya Daring ini banyak sekali disalah artikan oleh para pelajar. dimana yang biasanya seorang pelajar melakukan pembelajaran secara khusus di sekolah dan kali ini mereka lakukan dirumah. akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak melakukan pembelajaran yang seharusnya mereka lakukan dirumah. dalam artian mereka menganggap bahwa keadaan ini seperti libur sekolah. banyak sekali pelajar baik pelajar SD, SMP, MTs, SMA bahkan Perkuliahan yang tidak melakukan suatu hal yang disebut dengan pembelajaran Daring ini,mereka hanya sekedar absensi kehadiran lalu setelah itu mereka melakukan kegiatan lainnya seperti bermain gadget.
Hal itu dilakukan karena banyak nya pelajar menghabiskan kejenuhan nya para pelajar biasanya dihilangkan dengan cara berselancar di dunia maya, baik itu melihat youtube, whatsApp, Facebok, Tiktok dan dunia maya lainnya. dengan kenyamanan itu mereka seakan lupa waktu, karena mereka hanya bermain gadget sepanjang hari.
jika dilihat darihal itu sangat disayangkan sekali. karna diusia mereka yang seharusnya banyak menuntut ilmu justru mereka gunakan hanya untuk bermain main. kenyamanan mereka bisa berakibat tidak baik untuk masa depan mereka. oleh karena itu peran orang tua sangat penting dalam mengatur waktu anaknya. orang tua harus melakukan suatu kegiatan yang positif bersama anaknya seperti mengajarkan mereka untuk tetap belajar dengan cara membaca buku atau lainnya. hal ini dilakukan agar anak mereka tidak terjerumus kedalam suatu hal yang salah.
Ada hal keluhan dari pelajar yaitu karena tugas yang diberikan pengajar sangatlah banyak sehingga membuat pelajar merasa tertekan dan stress. Perasaan tertekan yang dialami juga mungkin saja datang karena beberapa hal, seperti tidak memahami materi, kemudian jumlah tugas yang banyak namun waktu yang diberikan tidak banyak, dan yang mungkin tidak terpikirkan oleh banyak orang atau pengajar ialah pelajar merasa sudah kelelahan dalam belajar dan tugas rumah yang mereka kerjakan kemudian datang tugas dari sekolah. Sehingga rasa lelah juga bisa memicu stress atau perasaan tertekan yang ada.
kita dapat melihat bahwa rata-rata pelajar mengalami stress selama menempuh pembelajaran daring ini. Memang tidak semua pelajar yang stress akan memutuskan untuk bunuh diri, hal ini disebabkan adanya perbedaan tiap pelajar. Setiap pelajar memiliki tingkat pemahaman yang berbeda ketika mereka sedang belajar. Ada yang harus dengan melihat dan mendengar secara langsung, ada yang hanya membaca namun sudah bisa memahami materi, dan ada juga yang bisa memahami materi dengan cara apapun. Hal tersebut sudahlah wajar, karena dalam ilmu psikologi sendiri dikatakan bahwa manusia merupakan individu yang unik dan memiliki ciri khas nya masing-masing. Sehingga kita tidak dapat menyamakan satu orang dengan orang lainnya.
Dikarenakan perbedaan yang ada, maka kita tidak bisa menghakimi pelajar yang sulit dalam memahami materi selama pembelajaran daring atau online ini. Karena mungkin saja walaupun mereka kurang dalam hal tersebut tetapi mereka memiliki kelebihan dibidang lain. Begitu juga dengan kasus pelajar yang sampai bunuh diri karena stress selama pembelajaran daring, kita tidak tau sesulit apa hal yang telah dilewatinya hingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Sehingga Dapat disimpulkan bahwa bagaimanapun keadaannya seorang pelajar harus bisa mengatur waktunya dengan baik yaitu dengan cara melakukan suatu hal yang positif dimasa pandemi ini dan tetap menuntut ilmu demi masa depan mereka. serta orang tua memilki peran yang sangat penting untuk menjaga anaknya agar mereka tetap melakukan suatu kegiatan yang positif selama pandemi ini.
Komentar Terbaru