Negara pada umumnya menginginkan terciptanya ketahanan pangan. Menurut Rachman dan Ariana, pangan adalah kebutuhan yang sangat mendasar bagi kehidupan manusia dan merupakan asupan yang digunakan untuk melakukan kegiatan sehari-hari sedangkan ketahanan pangan adalah jaminan manusia untuk hidup sehat serta produktif. Ketahanan pangan sendiri merupakan terpenuhinya pangan bagi setiap masyarakat dengan memperhatikan tingkat keterjangkauan, gizi, kualitas, dan ketersediaan dengan tujuan kesejahteraan masyarakat. Menurut FAO (Food and Agriculture Organization) yang bermarkas di Roma, Italia ketahanan pangan mencakup 4 aspek yaitu ketersediaan pangan, akses atau keterjangkauan penduduk terhadap pangan, stabilitas pasokan dan cadangan pangan yang ada, dan pemanfaatan pangan itu sendiri. Ketahanan pangan bagi negara berkembang seperti Indonesia menjadi sangat strategis mengingat ketahanan pangan merupakan salah satu tujuan MDGs ( Millennium Development Goals) yang ditandatangain oleh perwakilan dari 189 negara dunia yang berkeinginan untuk menciptakan kesejahteraan dunia dan mengurangi tingkat kemiskinan. Indonesia meskipun di cap sebagai negara dengan konsep negara agraris yang sudah ada sejak masa kolonial Hindia-Belanda yang mendoktrin bangsa Indonesia terkait bangsa agraris sejak masuknya sistem ekonomi perkebunan di nusantara , faktanya belum mampu menciptakan ketahanan pangan di negaranya. Tahun 2020 ini menjadi tahun yang sangat mengkhawatirkan dimana adanya isu perubahan iklim dan pandemi COVID-19 yang merangsang adanya krisis pangan global. Krisis pangan global tidak hanya mengakibatkan ketidakstabilan suatu negara, baik di bidang ekonomi, politik, kesehatan, dan bidang lain yang terkait.
Isu perubahan Iklim yang ada menjadi sangat mengerikan ketika terjadi. Bukan hanya menimbulkan masalah krisis pangan namun perubahan iklim yang ekstrim akan mengakibatkan permasalahan sosial lain yang lebih mengerikan. Dalam hal ini pemuda memegang peran penting dalam mengcounter isu tersebut. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menghadapi hal tersebut adalah dengan “Youth Empowerment” atau pemberdayaan pemuda khususnya di bidang-bidang krusial seperti pertanian. Faktanya banyak yang menganggap bahwa pertanian adalah suatu bidang yang tidak penting dan kurang berpengaruh terhadap stabilitas negara. Namun pemikiran tersebut tentu salah kaprah, karena pertanian sendiri memegang peran penting dalam menyokong stabilitas pangan negara pemasok bahan baku pada industri lainnya. Pemberdayaan pemuda dilakukan untuk menciptakan kesadaran pemuda agar lebih mencintai pertanian khususnya. Dalam studi literatur yang telah dilakukan pemuda yang terjun di dunia pertanian sangatlah minim dan didominasi oleh kaum non produktif yang memanfaatkan usia senjanya untuk terus produktif. Hal ini menjadi salah satu hal yang cukup disayangkan bahwasannya banyak pemuda lulusan pertanian namun bekerja dibidang lain karena menganggap pertanian merupakan sektor yang sangat riskan. Oleh karena itu pemberdayaan pemuda pertanian oleh stakeholder terkait akan sangat membantu untuk meminimalisir rasa inferiority pemuda pertanian pada bidang kerjanya sendiri.
“Aku malu kalau harus membuka identitasku sebagai seorang petani atau mahasiswa lulusan fakultas pertanian, karena aku cenderung ditertawakan” dari pernyataan ini membuktikan bahwasannya mahasiswa pertanian sangat tidak mencintai atau menggeluti bidangnya mereka cenderung memilih shortcut untuk hijrah ke jalan yang lebih mulus, namun pada dasarnya tetap terjal. Padahal ketika melihat realitas ganasnya persaingan dalam sektor usaha maupun politik sudah sangat berbeda dan sangat nampak jelas terlihat perbandingannya. Dalam hal ini pemuda menjadi tonggak untuk menciptakan ekonomi kreatif dan menjadi agent of change pada bidang yang sudah menjadi passion dan keahliannya masing masing. Umur bukanlah patokan dalam menggapai impian. Stereotipe yang masih melekat di benak masyarakat menjadik suatu tantangan tersendiri bagi pengganggas dalam melaksanakan program “Youth Agricultural empowerment”.
Adapun design dari Youth Empowerment ini adalah dengan membranding pertanian itu sendiri menjadi suatu bidang yang lebih menarik, mengajarkan bercocok tanam sejak dini, studi banding dengan tokoh yang berkecimpung langsung didunia pertanian dan mengarahkan serta memberikan pandangan bahwasannya pertanian merupakan sektor yang sangat menjanjikan bila ditekuni. Pemberdayaan pemuda pertanian perlu rutin dilakukan agar secara tidak langsung menanamkan suatu pandangan yang akan menjadi suatu hal yang dapat dilakukan suatu saat nanti. Pemberdayaan dapat dilakukan melalui beberapa metode baik secara modern maupun dengan konvensional (bertatap muka dan training). Metode modern dapat ditempuh dengan pelatihan-pelatihan melalui beberapa platform seperti penggunaan webinar-zoom, google meet, whattsapp group, disko (diskusi online) dan banyak metode yang dapat dipakai dalam pemberdayaan ini.
Pemberdayaan bukan hanya dilakukan secara teoritik saja melainkan secara praktis nya juga perlu dilakukan. Pemberdayaan tidak hanya melulu mengenai praktik dilapangan melainkan dengan mengajarkan atau membekali pemuda dengan teknologi baik teknologi budidaya maupun teknologi mesin serta AI (Artificial Inteligence). Dengan demikian pemuda pertanian tidak hanya pandai disawah namun dapat memanfaatkan fasilitas yang ada untuk mendorong kreativitas dan inovasi di bidang pertanian itu sendiri. Pemanfaatan sumber daya yang baik akan mendorong peningkatan kualitas dan tercapainya kesejahteraan negara.
Terlepas dari hal tersebut, mengingatkan pada quote dari bung Karno “Berikan aku 1.000 orang tua niscaya kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 1 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kata sakti tersebut seolah menggambarkan bahwa pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam tatanan dunia. Pemuda menjadi ujung tombak pergerakan Bangsa oleh sebab itu pemuda harus diberdayakan agar tidak melenceng dari jalur yang telah ditentukan.

Komentar Terbaru