Dengarkan Ben Bercerita :
Berkunjung ke Perpustakaan Tertinggi Di Dunia
Hai kenalin aku Kautsar Luthfian Ramadhan, tapi lebih akrab disapa icay. Untuk yang udah tau dan kenal aku ini orang kayak apa, pasti taunya aku adalah orang yang nggak suka baca. Wkwkwk Makanya mungkin agak aneh ketika ternyata aku punya pengalaman untuk berkunjung ke perpustakaan tertinggi di dunia, diantara banyak destinasi liburan lain. Padahal sebenernya sih aku suka banget baca tergantung dengan topik dari buku bacaannya. Aku suka baca buku komik, buku yang topiknya sesuai dengan seleraku dan penulisan bahasanya menggunakan Bahasa keseharian. Kali ini aku sih pengen banget cerita tentang berbagai fasilitas dan pengalaman menarik di perpustakaan tertinggi didunia.
Ngomong ngomong kamu udah pernah main ke perpustakaan mana aja ? apa kamu pernah main ke perpustakaan sekolah atau kampusmu ? atau kamu pernah berkunjung ke perpustakaan di kotamu ? kalau belum pernah aku saranin buat main deh ke perpustakaaan daerah (Perpusda) di kotamu. Karena perpustakaan itu tempaat menyenangkan untuk mengerjakan sesuatu yang butuh suasana hening loh, kamu bisa membaca, mengerjakan tugas, menyelesaikan pekerjaan dan mencari referensi. Kamu mungkin berpikir “buat apa ke Perpusda, aku aja nggak suka baca”, jangan salah di perpusda kamu nggak cuman bisa membaca berbagai koleksi buku yang tersedia. Kamu bisa juga berfoto dengan tematik buku dan perpustakaan yang ciamik. Selain itu biasanya di Perpusda akan kita jumpai galeri serta koleksi audio visual.
Aku suka sekali berkunjung ke beberapa perpustkaan sebelum aku mengunjungi perpustakaan tertinggi didunia. Beberapa perpustakaan yang pernah aku kunjungi ialah Perpusda Kota Salatiga dan Perpusda Kota Malang (wkwkwk mungkin aku akan bercerita di lain artikel tentang perpusda ini). Kadang aku sekedar membaca komik manga favoritku yaitu Kungfu Boy dan Hunter X Hunter. Dua komik ini memang the best sih, apalagi kungfu boy, karena seri lama dari buku ini sudah nggak banyak dijual di pasaran maka aku mencarinya di Perpusda. Aku juga suka membaca beberapa topik buku bacaan seperti buku tentang sales atau penjualan, marketing, semangat kebangsaan dan literatur Stand Up Comedy.
Kamu tau nggak perpustakaan tertinggi di dunia ini berdiri dengan 27 lantai dan 3 ruang bawah tanah. Keren bangetkan ? ketika aku sampai pun aku mendangak ke atas sampai leherku penat melihat tingginya sebuah bangunan untuk perpustakaan ini. Dengan 27 lantai perpustakaan ini memiliki ruang baca yang nyaman, koleksi buku langka, area ramah disabilitas, area anak, auditorium dan masih banyak lagi.
Dan apa kamu tau dimana letak perpustakaan tertinggi di dunia ? Perpustakaan Tertinggi di dunia ada di ….. ibukota DKI Jakarta wkwkwk, lebih tepatnya di Jl. Medan Merdeka Selatan No. 11 Jakarta Pusat. Perpustakaan tertinggi di dunia ini sering kali disebut sebagai Perpustakaan nasional Republik Indonesia atau Perpusnas RI. Ini juga pengalaman pertama yang mengesankan untukku. Perjalananku melihat lihat Perpusnas ditemani sahabat karibku di Jakarta, Lara Zafira Rifta (@za.rifta). Untuk berkunjung ke perpustakaan tertinggi didunia kamu bisa menggunakan moda transportasi transjakarta dengan arah tujuan Pulo Gadung dan berhenti di Halte Balai Kota.
Ketika pertama kali berkunjung kita nggak bisa langsung mengakses semua fitur serta fasilitas yang tersedia di perpusnas. Selayaknya pada perpustakaan umumnya kita harus memiliki Kartu Tanda Anggota. Untuk memiliki KTA Perpusnas RI kita bisa beranjak menuju lantai 2 dan mendaftarkan data diri kita sebagai anggota Perpusnas RI. Langsung saja menuju pusat layanan dan mengambil nomor antrian. Jangan lupa untuk membawa tanda pengenal seperti KTP atau KIA (Kartu Identitas Anak). Setelah memiliki KTA kita bisa mengakses semua fitur, ruangan dan fasilitas yang ada di perpusnas. Sesampainya kamu disini jangan lupa untuk mengantri dengan tertib dan bersabarlah karena kalau kamu berkunjung pada saat berlibur biasanya perpusnas cukup ramai. Karena seperti yang aku bilang di awal perpustakaan bukan hanya tempat untuk membaca tapi juga destinasi berlibur dengan spot spot fotogenic
Disini ada berbagai ruangan yang tidak hanya digunakan untuk membaca. Ada ruangan meeting, mini bioskop, ruang seminar, dan auditorium megah berkapasitas 150 orang. Apa kamu tau hal yang paling keren lagi? Ruangan-ruangan ini dapat dipinjam secara gratis loh. Kamu bisa meminjam ruang ruang ini secara gratis. Untuk peminjamannya kamu bisa mendapatkan informasinya di www.perpusnas.go.id yang merupakan website resmi dari Perpusnas.
Selayaknya perpustakaan pada umumnya, Perpusnas menyediakan koleksi buku. Buku buku yang berhasil di koleksi berasal dari berbagai negara dan daerah di indonesia. Mulai dari terbitan terbaru, terbitan lama, buku buku jadul dan buku buku langka.
Buku buku di Perpusnas sangat terawat dengan baik. Buku buku ini nggak dibiarkan berdebu dan dilakukan perawatan secara berkala. Buku buku jaman dulu dan langkapun masih terawat dengan baik meskipun agak berubah warna karena kondisi ketika buku itu ditemukan, tetap tertata dengan rapih, dan terdata di e-resource Perpusnas (mungkin aku akan bercerita tentang ini lain waktu). Ada satu ruangan dimana isi bukunya adalah buku buku langka. Buku buku itu disimpan di rak, dan ada tali penghalang yang menandakan tidak semua orang bisa mengakses , bahkan sebenarnya ruangan itu lebih terasa perpustakaan lama milik Doctor Strange di Kamar Taj wkwkw.
Di Perpusnas ada area anak. Pada area ini terdapat buku buku edukatif dan menghibur untuk anak anak. Tenang aja semua orang bisa masuk ke area ini meskipun aku dan kamu sudah tidak termasuk kategori anak anak. Ruangan ini biasanya menjadi surga kecil untuk mahasiswa PG PAUD dan PGSD untuk mencari referensi fisik keilmuannya. Selain buku buku dan majalah anak disini juga ada play land kecil untuk anak anak bermain. Sangat menyenangkan bukan ?
Tidak hanya area anak dan koleksi buku langka, Perpusnas memiliki koleksi buku Braile untuk penyandang tuna netra. Apa kamu tau huruf Braile ? huruf braile adalah tatanan titik yang membentuk alphabet braile. Cara membaca huruf braile menggunakan indra peraba, biasanya menggunakan jari. Sehingga buku dengan huruf braile berbeda dengan buku pada umumnya. Di perpusnas ada ruangan khusus buku braile dengan kertas cetak timbul. Bagian perpustakaan ini tetap bisa kita akses selama kita memiliki kartu tanda anggota Perpusnas. Dan tolong kalau kamu adalah penikmat humor Coki Pardede, jangan masuk ke area ini wkwkwkw.
Selain bisa menikmati segala fasilitas perpusnas, dengan KTA yang sakti ini kita juga bisa mengakses e-resources perpusnas dari manapun melalui website resmi Perpusnas. Menurut salah satu pustakawan disana, pendataan dan Scan buku masih terhambat dengan hak cipta dari penulis sehingga buku buku 1920an dan lebih lama dari itu bisa dilakukan pemindaian. Sementara yang cukup baru belum bisa dipindai tanpa seizin penulis buku.
Dari pengalamanku tadi, sebenanya ada satu pertanyaan yang terus tertinggal di benakku “untuk apa punya perpustakaan tertinggi di dunia kalau tidak berdampak pada kemajuan bangsanya?”. Hal ini tidak beda dengan punya Stadion Gelora Bung Karno namun tim sepak bola kita belum pernah menembus piala dunia. Punya perpustakaan tertinggi di dunia seharusnya berdampak pada intelektualitas bangsanya, minat literasi, semangat untuk menambah wawasan. Seharusnya kita tidak membanggakan diri kita sebagai negara dengan perpustakaan tertinggi di dunia, tapi kita harus mulai membanggakan tentang diskusi diskusi yang terjadi, keilmuan baru yang tercipta, dan meningkatnya minat literasi
Kegiatan kegiatan edukasi sangat memungkinkan untuk diselenggarakan di Perpusnas. Daripada berbagai ruang bermanfaat ini dibiarkan menganggur, pemerintah atau pihak perpusnas dapat membuat agenda diskusi keilmuan rutin dengan pemateri yang ahli di bidangnya. “eh cay tapi kan anak muda sekarang nggak suka baca, apalagi diskusi?”, eits jangan salah kalau anak muda tidak suka membaca maka buku buku karangan Raditya Dika yang membahas seputar kisah cinta semasa remaja tidakakan pernah laku. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya masih sangat mungkin untuk meningkatkan semangat literasi seperti membaca dan berdiskusi.
Huaaaah yah mungkin itu saja sedikit cerita dan pengalamanku di Perpustakaan tertinggi di dunia wkwkwk. Aku harap kalian menikmati ceritaku dan mulai berkeinginan untuk mengisi waktu luang setidaknya ke perpustakaan daerah di kota kalian. Secara pribadi aku berterimakasih sama Kamu, penikmat karyaku untuk membaca artikel ini sampai selesai. Semoga di lain waktu kita bisa ketemu, tolong izinin aku untuk jabat tanganmu dan ngucapin terima kasih secara langsung karena telah menjadi bagian dari sahabat sekaligus penikmat karyaku.




Komentar Terbaru