Ketika saya mengambil mata kuliah lintas prodi dari program Merdeka Belajar – Kampus Merdeka, saya menemui sedikit kesulitan. Tentu saja saya tidak menguasai konsep dasar bidang keilmuan baru tersebut. Hal ini dikarenakan memang berbeda dari disiplin Ilmu yang selama ini saya tekuni. Apakah saya lantas putus asa ditengah perkuliahan lintas prodi saya? Tentu tidak.
Justru kesempatan ini menantang para mahasiswa agar senantiasa siap menggali hal-hal baru. Sejumlah referensi sampai internet menjadi andalan saya. Bahan tersebut saya kumpulkan untuk memenuhi kebutuhan sumber belajar secara mandiri dan aktif. Jadi, disini harus ada kesesuaian antara kebebasan yang diberikan program MBKM untuk memasuki bidang keahlian lain dengan kesiapan peserta didik agar bersikap curious, siap dan gigih. Sama-sama out of the box lah.
Selain kasus individu ketika menekuni lintas bidang keahlian lain seperti saya tersebut, masih banyak kendala yang dialami oleh berbagai pihak saat menjalani program MBKM ini. Sejumlah keluhan maupun kritik terus berdatangan menanggapi konsep kampus merdeka ala Mas Menteri. Program yang sudah diluncurkan oleh Kemendikbud Ristek sejak Januari 2020 ini menuai pro-kontra. Meski tengah dijalankan oleh civitas akademika, namun penerapannya dirasa tidak semudah apa yang digembar-gemborkan.
‘Merdeka Belajar – Kampus Merdeka’, jargon tersebut begitu tendensius, seolah memberi harapan akan kemerdekaan pendidikan Indonesia. apakah semangat itu benar adanya, bahkan sesuai dengan kenyataan dilapangan?
Program MBKM sangat perlu diapresiasi karena cara-caranya yang progresif dalam melakukan terobosan penataan pendidikan. Diantaranya, mahasiswa dipandang sebagai subjek yang aktif dalam belajar, bereksperimen aktif, bebas mengembangkan pilihan minat dan bakatnya. Paradigma belajar yang terkungkung pada batas ruang kelas dan jam perkuliahan diubah kedalam jam kegiatan pembelajaran yang variatif seperti magang, riset, pertukaran pelajar, wirausaha, mengajar di daerah terpencil dll.
Selanjutnya yang menjadi pertanyaan ialah metode progresif yang dilakukan apakah sebatas hanya dilink and match-kan demi kebutuhan tenaga kerja pasar dan industry atau benar-benar untuk memerdekakan anak bangsa serta pendidikan di Indonesia? Apabila hal ini digunakan untuk menyiapkan kemampuan softskill lulusan sarjana Indonesia yang mampu menghadapi pasar dunia kerja dan industry semata, justru makna serta nilai pendidikan yang sejati akan semakin jauh terdegradasi.
bersambung…
Komentar Terbaru